Pernah ngerasa bingung gimana cara nunjukin skill ke orang lain padahal baru mulai? Portofolio kerja adalah jawabannya, dan kabar baiknya, kamu nggak perlu jadi pro buat bikin yang keren!
1. Pahami Tujuan Portofolio
Portofolio kerja itu ibarat “toko display” buat skill kamu, tujuannya bikin orang percaya kamu bisa ngapa-ngapain, meski baru mulai.
Buat pemula, portofolio nggak harus ribet atau penuh proyek megah, yang penting, dia nunjukin apa yang kamu kuasai dan apa yang bisa kamu tawarin ke klien atau bos.
Pertama, tanya diri sendiri: “Aku mau orang lihat aku jago apa?” Misalnya, kalau kamu suka desain, portofolio bisa fokus ke logo atau banner.
Kalau nulis, taruh contoh artikel atau caption. Nggak perlu bingung sama jumlah, 3-5 karya udah cukup buat pemula, asal rapi dan relevan.
Langkah awal simpel banget: buat daftar kecil skill yang kamu punya.
Nggak punya pengalaman kerja? Tenang, proyek fiktif atau latihan pribadi juga oke. Contoh, bikin desain logo buat “toko imajiner” atau tulis artikel pendek tentang hobi.
Intinya, portofolio adalah bukti kamu bisa kerja, bukan cuma omong doang. Dengan paham tujuan ini, kamu udah setengah jalan buat mulai!
2. Pilih Platform Gratis yang Mudah Digunakan
Ada banyak platform gratis yang ramah pemula buat bikin portofolio kerja, yang penting, pilih yang gampang diatur dan bisa diakses orang lain kapan aja.
Ini bakal jadi “rumah digital” buat karya kamu.
A. Google Sites.
Tinggal login pakai Gmail, pilih template simpel, dan taruh karya dalam bentuk gambar atau link.
Bisa selesai dalam 1-2 jam, dan hasilnya langsung online.
B. Carrd
Gratis buat satu situs dasar, cocok kalau kamu suka desain minimalis.
C. Canva
Bikin portofolio dalam bentuk PDF atau presentasi, terus simpan link-nya di bio medsos.
Cara bikinnya gampang. Daftar, pilih desain yang nggak ribet, hindari warna terlalu rame, lalu isi dengan judul seperti “Portofolio [Nama] - Desain & Konten”.
Tambah bagian “Tentang Saya” singkat, misalnya “Pemula di dunia digital, siap terlibat proyek kecil.”
Platform ini nggak cuma gratis, tapi juga bikin kamu keliatan pro meski baru mulai.
Jadi, nggak ada alasan buat nunda lagi, pilih satu dan mulai sekarang!
Tips: pastikan link portofolio gampang dibuka di HP, soalnya banyak klien cek lewat situ.
Jangan lupa taruh kontak, kayak WhatsApp atau email, biar gampang dihubungi.
3. Kumpulkan dan Atur Karya dengan Rapi
Ini bagian inti: isi portofolio kamu.
Buat pemula, kumpulin karya mungkin terasa susah kalau belum pernah kerja buat klien.
Tapi tenang, karya nggak harus dari proyek beneran yang penting, ada sesuatu yang bisa dilihat orang buat nilai kemampuanmu.
Atur karya biar rapi. Kasih judul tiap proyek, tambah deskripsi singkat, dan taruh gambar atau link yang jelas.
Fokus ke kualitas, bukan jumlah. Buat pemula, klien lebih suka lihat usaha ketimbang kesempurnaan.
Pernah bikin tugas kuliah atau proyek sampingan? Masukin juga, asal relevan.
Misalnya, presentasi kelompok yang desainnya kamu bikin, edit dikit, jadilah portofolio.
Intinya, kumpulin apa yang udah ada, poles sedikit, dan susun rapi, dengan 3-5 karya solid, portofoliomu udah siap dilirik!
4. Bagikan dan Perbarui Portofolio Secara Berkala
Portofolio yang udah jadi nggak bakal berguna kalau cuma disimpan, sebarin biar orang tahu!
Buat pemula, langkah ini penting banget supaya klien atau perekrut bisa lihat kemampuanmu.
Plus, jangan lupa update biar tetep relevan sama skill terbaru yang kamu pelajarin.
Cara bagiinnya simpel. Taruh link portofolio di bio Instagram, Twitter (X), atau LinkedIn.
Kirim ke temen atau grup WhatsApp dengan pesan santai, misalnya “Eh, aku baru bikin portofolio nih, cek dong!”
Kalau apply kerja atau cari klien freelance, sertakan link di email atau lamaran. Orang bakal lebih gampang percaya kalau bisa lihat bukti langsung.
Terakhir, jangan biarin portofolio “mati”.
Tiap selesai proyek baru, entah buat klien atau latihan, tambahkan ke situ. Misalnya, minggu ini kamu bikin banner buat temen, masukin ke portofolio dengan caption “Banner promo olshop, selesai dalam 3 jam”.
Lakukan terus hingga portofoliomu penuh karya nyata, dan kamu nggak lagi jadi “pemula” di mata orang.
Tips terakhir: cek tiap 2-3 bulan, hapus karya yang udah ketinggalan atau kurang bagus.
Ganti sama yang lebih fresh biar portofolio tetep menarik.
Dengan cara ini, kamu nggak cuma punya portofolio simpel, tapi juga aset yang tumbuh bareng karirmu.
Nggak perlu takut salah atau kurang sempurna, soalnya tiap karya adalah bukti kamu berani mulai.
Portofolio pertama mungkin sederhana, tapi itu awal dari sesuatu yang bisa bikin orang takjub di masa depan.